Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2015

"Stop Kekerasan Verbal" #SatuMulai #AndroidOne


Sadarkah kita, terkadang tak selalu tertawa bersama itu adalah hal yang menyenangkan? Iya, karena tawa itu menggelegar saat kita mengejek atau bahkan menghina seorang teman yang berpura-pura ikut tertawa dan menertawakan kekurangannya. Kasus tersebut sering kali kita temui di pergaulan sehari-hari.
Saat dia ikut tertawa, kita tidak tahu apa sebenarnya yang dia rasakan karena teman-temannya justru senang mencela dan menjadikannya bahan olokan. Kita tidak tahu apakah dia merasa tersakiti hatinya. Bahkan kita tidak tahu apakah disaat menyendiri, dia meratapi kekurangan yang selalu menjadi hinaan dari teman-temannya.
Oleh karena itu, berangkat dari pertemanan yang sehat dan baik, penulis ingin membuat sebuah Video Message Project sebagai social movement yang coba menyemangati dan lebih menghargai teman-teman yang sering menjadi bahan olokan atau dihina untuk ditertawai.

Rabu, 13 Agustus 2014

Ironi di Tengah Bencana Banjir (Banjir Jakarta 2013)

Beberapa hari yang lalu, saya ikut turun ke lokasi bencana banjir bersama beberapa relawan, kami sampai di lokasi sekitar pukul sembilan malam, setelah sebelumnya kami mengangkut logistik yang menumpuk di salah satu posko banjir yang berada di kawasan Kampung Melayu, untuk didistribusikan ke kawasan banjir yang ada di Pluit.
            Sesampainya di lokasi, terlihat lumpur-lumpur yang terbawa air di bahu-bahu jalan, dan genangan air yang masih  terdapat di jalan raya. Warga yang sebagian besar menjadi korban bencana banjir di daerah Penjaringan, Pluit, Jakarta Utara ini, menempati pengungsian yang tersebar diberbagai titik. Namun, masih banyak dari mereka yang memilih untuk tetap bertahan di rumah, karena rumah mereka memiliki dua lantai, sehingga bisa dimanfaatkan untuk tinggal daripada memilih untuk tinggal dipengusian.
            Sekitar pukul  sebelas malam, saya pun diajak untuk memasuki daerah yang menjadi target untuk penyerahan logistik. Kami jalan perlahan bersama salah seorang warga yang juga merupakan korban banjir di daerah tersebut.  Awalnya, jalan yang kami tempuh dengan berjalan kaki itu tergenang hanya sebatas mata kaki, tetapi ketika semakin memasuki daerah di mana air menggenangi sampai setinggi paha. Melihat genangan air yang keruh dan dipenuhi sampah, saya sempat berpikir pesimistis, bagaimana bisa ini akan surut, selain karena padatnya pemukiman, daerah resapan air juga sangat minim.
            Ketika kami sampai di lokasi inti, warga menyambut dengan keramahan. Setelah mendengar keluh kesah mereka tentang bencana banjir serta penanggulangannya, saya agak miris, karena terjadi beberapa penyimpangan dalam pendistribusian bantuan atau logistik. Mulai dari ‘hilangnya’ jatah, prosedur yang berbelit untuk mendapatkan bantuan, hingga ketidakmerataan pembagian logistik. Sebagian besar bantuan yang dikirim ke posko yang berada di daerah tersebut, sebelum diterima warga, harus melalui RT atau RW. Mungkin tujuan baik supaya tidak terjadi kericuhan, karena jika warga mengambil sendiri bantuan tersebut, dikhawatirkan chaos. Namun, hal yang tidak semestinya terjadi adalah kesalahpahaman yang terjadi antara warga dengan RT maupun RW tersebut, di mana salah seorang warga menuturkan kalau mereka seperti dipersulit untuk mendapatkannya hingga untuk mendapatkan bantuan tersebut mereka harus menyertakan lampiran tertentu, sehingga terkesan berbelit-belit. Selain itu, keberadaan TNI yang ditugaskan membantu para korban bencana juga masih sangat dirasakan kurang, bahkan mereka hanya menjadi bahan cibiran warga karena warga merasa kesal, kurang diperhatikan, karena mereka hanya berjaga di daerah-daerah tertentu.
            Karena alasan tersebutlah, bantuan logistik yang kami bawa sengaja tidak didistribusikan melalui RT ataupun RW, melainkan langsung memberikannya ke warga yang cenderung ‘terisolir’ dari bantuan yang dibawakan TNI ataupun RT dan RW. Selain lebih efektif dan efisien, juga langsung mengenai sasaran. Terlebih lagi, warga juga menuturkan bahwa banyak dari mereka yang tidak kebagian jatah bantuan, karena adanya orang-orang tertentu yang padahal secara ekonomi mampu, namun ‘berpura-pura miskin’ demi mendapatkan bantuan. Tentu ini menjadi ironis tersendiri di tengah bencana yang seharusnya menyadarkan bahwa bencana tersebut adalah bencana bersama, seharusnya mereka lebih memiliki solidaritas sesama korban, bukannya memanfaatkan keadaan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

            Ini juga menjadi kritik tersendiri untuk tulisan saya sebelumnya yang mengatakan bahwa dengan bencana banjir ini, sekat sosial seakan dijebol. Tetapi yang terjadi sebenarnya justru munculnya sentimen dan sikap saling curiga, dikarenakan adanya ketidakmerataan dan ketidaktransparansian tersebut. sebuah ironi memang, bencana yang terjadi seharusnya dijadikan bahan untuk refleksi setiap orang bahwa bencana tersebut merupakan sebuah teguran alam terhadap prilaku manusia. Dan seharusnya, ditengah kejadian bencana ini, kita lebih bisa bahu-membahu saling membantu sebagaimana kewajiban manusia sebagai makhluk sosial, bukannya malah memanfaatkan keadaan untuk keuntungan semata atau bahkan menyalahgunakan bantuan yang ditujukan kepada yang seharusnya membutuhkan.

Banjir Menerjang Sekat Sosial (Banjir Jakarta 2013)

Awal tahun 2013 menjadi sebuah peringatan tersendiri bagi bangsa ini. Bagaimana tidak? Januari baru menghabiskan setengah bulannya, akan tetapi bencana banjir yang begitu dahsyat meluluhlantahkan sebagian besar wilayah bumi pertiwi. Bahkan, Jakarta sebagai ibu kota, adalah daerah yang paling parah terkena dampaknya.
            Indonesia memang sedang memasuki musim penghujan, sehingga curah hujan di berbagai daerah sangat tinggi dan merata,  meluapnya sungai-sungai,  tanggul-tanggul yang jebol, serta anomali cuaca juga turut memperburuk keadaan. Kita tentunya tidak bijak jika hanya mempermasalahkan dan menyalahkan alam, justru seharusnya kita harus berpikir dan mengevaluasi diri atas apa yang terjadi, tidak hanya melakukan debat kusir dan saling melepas tanggung jawab dikarenakan adanya kewenangan tertentu, tapi kesadaran untuk menolong sesama lah yang seharusnya dijadikan landasan bertindak.
            Begitu luar biasanya banjir ini sehingga melumpuhkan berbagai aktifitas kehidupan, terutama di Ibu Kota, pusat-pusat kegiatan ekonomi dan bisnis juga tak luput dari sasaran banjir. Ini dikarenakan jalan yang merupakan akses utama kegitan tersebut tergenang air, dan mengakibatkan arus lalu lintas terganggu, sehingga perkantoran sepi dari aktifitas.
            Apabila kita renungkan, bencana banjir ini tentu bukan hanya disebabkan faktor alam, tapi karena adanya kontribusi dari manusia yang bersikap semena-mena terhadap alam, dengan membuang sampah sembarangan ke sungai, pengalihan fungsi lahan yang brutal, serta tidak memperhatikan kelestarian alam dalam jangka panjang, sehingga alam seperti ‘mengamuk” dan melakukan pemberontakan. Ini merupakan imbas bagi manusia karena ulahnya terhadap alam.
            Jika kita melihat dampak negatif dari bencana banjir ini memang tidak akan ada habisnya. Kerusakan sarana dan prasarana penunjang kehidupan, terganggunya lalu lintas, serta lumpuhnya aktifitas ekonomi dan bisnis adalah dampak yang sangat dirasakan oleh para korban. Akan tetapi, coba kita lihat, adanya bencana banjir yang tak pandang bulu ini justru seolah-olah membuka sekat-sekat sosial yang selama ini mengkhotomi masyarakat Ibu Kota. Setidaknya, jika diperhatikan, bencana banjir ini menerjang tanpa memandang apakah itu pemukiman kumuh maupun mewah, bahkan istana kepresidenan pun ‘dipaksa’ untuk sama-sama merasakan  efek dari banjir ini. Secara sosial, bencana banjir ini membuat sekat-sekat sosial itu terbuka, baik itu si miskin maupun si kaya, selain sama-sama menjadi korban, mereka juga larut dalam kegiatan yang bertujuan membantu satu sama lain, mereka juga lebih membaur dengan bersama-sama di tempat pengungsian, dengan jatah makan dan fasilitas yang sama. Dalam kondisi seperti ini, semua sekat yang seakan membatasi, terhancurkan oleh terjangan banjir ini. Selain itu, kesigapan para relawan baik itu tim SAR maupun warga yang sengaja datang dengan niat ingin membantu, memperlihatkan bahwa solidaritas kemanusiaan bangsa ini sebenarnya masih sangat besar, terlepas dari perilaku keseharian yang cenderung individualis, ternyata optimisme bangsa ini terhadap solidaritas sosial masih begitu signifikan.
            Sepertinya, jika kita berpikir positif tentang bencana banjir ini, mungkin ada benarnya kalau banjir ini memang diperuntukkan menerjang dan menjebol tanggul-tanggul sosial pemisah antara kaum miskin kota dengan para borjuis urban, khususnya yang ada di Ibu Kota. Karena selama ini begitu curamnya jurang pemisah antara keduanya ini, dengan banjir ini merupakan sebuah teguran untuk lebih peduli satu sama lain, dan menghilangkan pandangan-pandangan sinis antarsesama.  Bagaimana banjir ini menunjukkan bahwa keduanya adalah semuanya sama ketika menjadi korban, karena pada hakekatnya adalah sama yaitu sebagai manusia, penghuni sementara di bumi. Selain itu, bencana banjir ini juga seolah menunjukkan kepada manusia bahwa alam bisa seketika marah dan menjadi malapetaka bagi manusia, yang bersikap semena-mena terhadapnya.

            Ini merupakan teguran agar manusia lebih peduli lagi terhadap bumi yang semakin tua ini. Semoga setelah ini semua, ada perbaikan dari setiap individu untuk dapat hidup lebih selaras dengan alam, dan yang terpenting adalah sekat-sekat sosial yang seperti terbuka ini, tidak kembali menutup dan rasa solidaritas tetap terjaga.

Senin, 21 Juli 2014

Belajar Dari Anak Kecil

Tak selalu kematangan usia menunjukan kedewasaan seseorang. Dewasa adalah suatu sikap yang dilandasi oleh pemikiran yang berdasarkan nurani.


Check this article, Guys :)